Sutradara Ali Abu Yasin Ubah Derita Warga Gaza Jadi Panggung Teater

Sutradara Ali Abu Yasin Ubah Derita Warga Gaza Jadi Panggung Teater
Sutradara Ali Abu Yasin Ubah Derita Warga Gaza Jadi Panggung Teater

FOKUSMEDIA.CO.ID — Ali Abu Yasin menyutradarai "50 Minutes in Gaza" di tenda darurat kompleks Rashad al-Shawa, Gaza City, dengan delapan aktor yang bertahan dari empat belas peserta awal. Naskahnya lahir dari kisah nyata warga yang kehilangan rumah dan keluarga akibat serangan Israel.

Pementasan berlangsung di tenda kain dan plastik yang dipasang di tempat parkir Rashad al-Shawa Cultural Centre, gedung yang rusak akibat serangan Israel pada 2023. Ali Abu Yasin, aktor dan penulis naskah dengan pengalaman 37 tahun, memilih bertahan di Gaza meski sejumlah teater tempatnya berkarya telah hancur.

Data UNESCO yang diverifikasi hingga Maret 2026 mencatat 164 situs budaya di Gaza mengalami kerusakan sejak 7 Oktober 2023. Sebanyak 128 di antaranya bangunan bersejarah atau bernilai seni.

Dari Lokakarya Menjadi Pementasan

Proyek "50 Minutes in Gaza" dimulai April 2026 sebagai lokakarya penulisan teater yang didukung Rosa Luxemburg Foundation. Dari 14 peserta yang semula mendaftar, hanya delapan yang berhasil mencapai lokakarya.

Sisanya terluka dan meninggalkan Gaza untuk perawatan, mengungsi, atau tak sanggup menempuh perjalanan. Para peserta awalnya datang untuk belajar menulis naskah, tetapi setelah skrip selesai mereka memutuskan tampil sendiri.

Yayasan itu menanggung biaya produksi dasar dan memberi honor kecil, bukan gaji. Abu Yasin menegaskan uang bukan alasan para aktor tetap datang meski perjalanan ke lokasi latihan berbahaya dan melelahkan.

Dua Jam Berjalan Kaki Sebelum Latihan

Abu Qasai Qaddoura, 42 tahun, berjalan kaki dua jam setiap kali menuju tempat latihan. Ia menghindari jalan utama yang tertutup puing dan disebutnya rawan tembakan, memilih gang-gang samping.

Sebelum berangkat, ia membeli kayu bakar seharga tujuh shekel (sekitar 2 dolar AS) per kilogram untuk memasak dan menghangatkan keluarga. Bila uang tak cukup, ia memungut kardus, plastik, atau sisa kayu dari rumah yang hancur.

Qaddoura bukan aktor. Sebelum perang ia bekerja di balik kamera sebagai manajer produksi dan teknisi suara. Serangan udara Israel menghancurkan rumahnya di al-Tawam, utara Gaza.

Kini ia, istri, dan tiga anaknya—Ghazal 15 tahun, Qusai 12 tahun, dan Sham tujuh tahun—tinggal di satu kamar di atap rumah sewaan yang ditutupi terpal plastik.

Peran Dokter yang Memotong Kaki Anaknya Sendiri

Di atas panggung, Qaddoura memerankan dokter yang terjebak di rumah sakit Gaza. Boneka bayi dalam dekapannya adalah anak sang tokoh. Tanpa anestesi, ia harus memotong kaki anak itu sendiri. Bayi tersebut meninggal.

Adegan itu diangkat dari pengalaman nyata seorang ayah di Gaza, yang videonya ditonton para aktor. Qaddoura mengaku tidak selalu melihat wajah tokoh saat menggendong boneka itu.

"Saya tidak hanya memerankan karakter; saya menatap wajah anak-anak saya sendiri," kata Qaddoura. "Setiap kali saya menggendong anak itu di panggung, ketakutan mencengkeram hati saya bahwa besok ini bisa jadi salah satu anak saya. Saya tidak bisa menahan air mata karena rasa takut itu terlalu nyata."

Setelah adegan selesai, ia menangis tersedu dan latihan dihentikan. Selama 15 menit Qaddoura duduk di sisi panggung sambil menyeruput air, ragu apakah sanggup mengulanginya.

"Saya mengingat anak-anak saya sendiri, dan bagaimana seorang ayah bisa berdiri tak berdaya dan hancur di depan luka anaknya," ujarnya kemudian.

Abu Yasin memanggil para aktor kembali. Qaddoura berdiri, kembali ke posisinya, dan memainkan adegan itu sekali lagi.

Kehilangan Ruang, Bertahan dengan Cara Lain

Al-Mishal Cultural Centre hancur dalam serangan udara Israel pada 2018. Rashad al-Shawa Cultural Centre rusak pada 2023. Dua panggung yang membentuk karier Abu Yasin lenyap.

Pertanyaan yang ia hadapi sederhana namun tak terjawab: di mana mementaskan teater ketika teaternya sudah tidak ada?

Abu Yasin menyebut para aktornya sebagai manusia biasa yang setiap hari mengejar air bersih, listrik, truk bantuan pangan, dan penghidupan di tengah harga melonjak. Latihan teater, katanya, menjadi pelepasan psikologis dan emosional.

"Kami manusia biasa, berlari mengejar air bersih, listrik, truk makanan dan penghidupan supaya bisa bertahan di tengah harga yang melangit," kata Abu Yasin.

Pementasan ini belum punya jadwal tetap. Para aktor terus berlatih di tenda yang sama, dengan risiko yang sama, sambil menunggu apakah panggung darurat mereka masih bisa berdiri esok hari.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index