JAKARTA - Perusahaan penyedia infrastruktur pusat data di Indonesia kembali menunjukkan performa yang mengesankan sepanjang 2025. Emiten yang didirikan oleh Toto Sugiri bersama Anthoni Salim, PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), berhasil mencatat pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan layanan pusat data di Indonesia seiring perkembangan ekonomi digital. Performa yang dicatat perusahaan ini juga menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam industri data center di Tanah Air.
Pendapatan DCII Melonjak Lebih dari 40 Persen pada 2025
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, PT DCI Indonesia Tbk. membukukan pendapatan sebesar Rp2,54 triliun. Angka tersebut meningkat 40,17% secara tahunan atau year-on-year (YoY) dibandingkan pendapatan pada 2024 yang tercatat Rp1,81 triliun.
Lonjakan pendapatan tersebut terutama ditopang oleh layanan kolokasi yang menjadi bisnis utama perusahaan. Dari total pendapatan yang dibukukan pada 2025, sebesar Rp2,35 triliun berasal dari layanan kolokasi.
Sementara itu, sumber pendapatan lainnya memberikan kontribusi yang lebih kecil namun tetap signifikan bagi perusahaan. Pendapatan dari pos lain-lain tercatat sebesar Rp181,8 miliar sepanjang tahun 2025.
Pertumbuhan pendapatan yang cukup tinggi tersebut memperlihatkan tingginya permintaan layanan pusat data dari berbagai sektor industri. Transformasi digital yang semakin luas juga turut mendorong kebutuhan akan infrastruktur penyimpanan data yang andal dan aman.
Meski pendapatan meningkat cukup tajam, perusahaan juga mencatat kenaikan pada sejumlah komponen biaya operasional. Peningkatan tersebut merupakan konsekuensi dari ekspansi layanan serta peningkatan kapasitas operasional yang dilakukan perusahaan.
Beban Operasional Turut Meningkat Seiring Ekspansi Bisnis
Pada periode yang sama, beban pokok pendapatan perusahaan mengalami peningkatan cukup besar dibandingkan tahun sebelumnya. Beban pokok pendapatan DCII naik dari Rp755,4 miliar pada 2024 menjadi Rp1,16 triliun pada 2025.
Kenaikan beban pokok pendapatan tersebut sejalan dengan pertumbuhan aktivitas bisnis perusahaan. Semakin besar layanan yang diberikan kepada pelanggan, semakin tinggi pula biaya operasional yang harus ditanggung.
Selain beban pokok pendapatan, perusahaan juga mencatat beberapa komponen biaya lain sepanjang tahun buku 2025. Beban pemasaran tercatat sebesar Rp5,29 miliar selama periode tersebut.
Di sisi lain, beban umum dan administrasi perusahaan tercatat mencapai Rp125,66 miliar. Angka tersebut mencerminkan biaya operasional internal perusahaan dalam menjalankan kegiatan bisnis sehari-hari.
Perusahaan juga mencatat beban operasi lain sebesar Rp1,31 miliar sepanjang 2025. Selain itu terdapat pula beban keuangan yang mencapai Rp89,5 miliar pada periode yang sama.
Tidak hanya itu, perusahaan juga harus menanggung beban pajak penghasilan neto yang tercatat sebesar Rp178,76 miliar. Seluruh komponen biaya tersebut menjadi bagian dari perhitungan kinerja keuangan perusahaan sepanjang tahun buku 2025.
Laba Bersih DCII Tembus Rp1 Triliun
Meskipun sejumlah beban mengalami peningkatan, perusahaan tetap mampu menjaga tingkat profitabilitasnya. Hal ini terlihat dari capaian laba bersih yang berhasil meningkat pada tahun 2025.
Sejalan dengan kenaikan pendapatan, DCII juga mencatat peningkatan laba tahun berjalan. Laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih perusahaan berhasil menembus Rp1 triliun pada 2025.
Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan laba yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp796,47 miliar.
Dengan demikian, laba bersih DCII pada 2025 meningkat sebesar 25,67% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menjaga efisiensi operasional meskipun beban usaha mengalami kenaikan.
Kinerja laba yang positif ini juga memperlihatkan keberhasilan strategi bisnis perusahaan dalam memanfaatkan peluang industri data center. Permintaan layanan pusat data yang terus meningkat menjadi salah satu faktor pendorong utama pertumbuhan tersebut.
Pertumbuhan laba yang solid juga memperkuat posisi perusahaan di pasar modal. Para investor biasanya menilai kinerja laba sebagai indikator penting dalam melihat potensi pertumbuhan suatu emiten.
Kenaikan Laba Per Saham dan Posisi Neraca Keuangan
Seiring dengan meningkatnya laba bersih, perusahaan juga mencatat kenaikan laba per saham atau earnings per share (EPS). Laba per saham DCII pada 2025 tercatat sebesar Rp420.
Angka tersebut meningkat dibandingkan laba per saham pada tahun sebelumnya. Pada 2024, laba per saham perusahaan tercatat sebesar Rp334.
Kenaikan laba per saham ini mencerminkan peningkatan nilai yang diterima oleh para pemegang saham perusahaan. Hal tersebut juga menjadi indikator bahwa kinerja keuangan perusahaan mengalami perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain dari sisi laba dan pendapatan, kondisi neraca keuangan perusahaan juga menunjukkan posisi yang cukup solid. Hal ini terlihat dari nilai aset perusahaan yang mencapai angka triliunan rupiah.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, total aset DCII tercatat mencapai Rp6,64 triliun. Nilai tersebut mencerminkan keseluruhan sumber daya ekonomi yang dimiliki perusahaan hingga akhir 2025.
Sementara itu, total liabilitas perusahaan tercatat sebesar Rp2,64 triliun. Liabilitas tersebut mencerminkan kewajiban perusahaan yang harus dipenuhi kepada pihak lain.
Di sisi lain, perusahaan juga memiliki total ekuitas yang cukup besar. Ekuitas DCII tercatat mencapai Rp4 triliun pada akhir 2025.
Struktur keuangan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memiliki modal yang cukup kuat untuk mendukung kegiatan operasional dan pengembangan bisnis di masa mendatang. Dengan posisi aset, liabilitas, dan ekuitas yang solid, perusahaan memiliki fondasi yang kuat untuk melanjutkan pertumbuhan di industri pusat data yang terus berkembang.