JAKARTA — PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) memprediksi ritme ekspansi sektor industri real estat domestik berpotensi menghadapi kelesuan seiring dengan lonjakan suku bunga acuan (BI Rate) yang kini bertengger pada level 5,75%.
Direktur CTRA, Harun Hajadi memaparkan pengetatan instrumen moneter itu akan menstimulasi transmisi kenaikan margin bunga kredit pemilikan rumah (KPR) pada level institusi perbankan.
”Memang suku bunga acuan sudah naik, dan kami monitor terus. Jika bunga KPR ikut dinaikkan juga, pasti akan mengakibatkan negatif untuk industri properti,” kata Harun kepada Bisnis, Rabu (24/6/2026).
- Baca Juga Raih GCG Awards 2026, PNM Layani 23,
Harun membeberkan bahwa indikator penyusutan kurva penjualan sejatinya mulai terdeteksi semenjak tahun lampau. Akan tetapi, manajemen menilai gejala pengerutan pasar itu lebih dipicu oleh variabel perputaran siklus komersial tahunan.
Harun merinci, lini properti nasional sebelumnya telah mencecap tren pertumbuhan positif selama beberapa tahun beruntun. Fase keemasan pasar properti tersebut bergulir secara kontinu di sepanjang tahun 2022, 2023, hingga penghujung 2024.
“Sejak tahun lalu properti sudah melambat, menurut saya karena cycle. Properti pada 2022, 2023, 2024 sangat booming dan kelihatannya 2025 cycle melambat,” ujarnya.
Sementara merujuk pada dokumen berkala korporasi, CTRA terdata meraup pra-penjualan (marketing sales) senilai Rp2,4 triliun pada kuartal I/2026. Angka tersebut merepresentasikan 26% dari target yang dipatok.
Meski begitu, perolehan marketing sales tersebut mengalami koreksi sebesar 23% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Di mana, pada kurun waktu yang sama di periode sebelumnya CTRA berhasil mengantongi marketing sales mencapai Rp3,1 triliun.
Dilihat dari mekanisme pelunasan, perolehan marketing sales itu didominasi oleh instrumen KPR yang menyentuh angka 72%, diikuti dengan metode tunai keras sebesar 19% serta skema tunai bertahap di kisaran 9%.
Sejalan dengan besarnya portofolio pembiayaan pelanggan yang masih bertumpu pada fasilitas KPR, maka performa penjualan unit hunian bakal teramat rentan terhadap pergerakan suku bunga.
“Meningkatnya proporsi KPR seiring dengan keterjangkauan KPR dan tingginya pembeli end user,” pungkas manajemen CTRA dalam Keterbukaan Informasi.