JAKARTA — Danantara membuka peluang guna meluncurkan obligasi global atau global bond berdurasi panjang, hingga menyentuh 30 tahun. Rencana tersebut mencuat selaras dengan tingginya atensi para investor global terhadap perilisan global bond perdana milik Danantara.
CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengutarakan perilisan global bond awal Danantara tersebut telah mengalami oversubscribed melampaui tiga kali lipat.
Di dalam peluncuran global bond perdana itu, mulanya Danantara membidik perolehan investasi senilai US$1 miliar. Kemudian, dalam tahapan *bookbuilding*, dijumpai permintaan investasi menyentuh US$4,6 billion.
Pihak Danantara lantas mendongkrak volume perilisan global bond menjadi US$1,5 miliar, yang dipecah masing-masing sebesar US$750 juta bagi tenor 5 tahun serta US$750 juta untuk tenor 10 tahun.
Produk global bond dengan durasi 5 tahun mendapatkan yield sebesar 5,35%. Selanjutnya, untuk tenor 20 tahun memperoleh yield di angka 5,95%.
Rosan menguraikan bahwa penjualan global bond yang laku keras tersebut merefleksikan tingginya level kepercayaan dari para penanam modal global terhadap Danantara. Walaupun, pada masa sekarang ini sektor keuangan global tengah dihantam tekanan akibat memanasnya geopolitik dunia.
Oleh karena itu, Danantara pun memproyeksikan rencana guna menerbitkan kembali global bond bermodel tenor jangka panjang.
"Bahkan kami nyatakan sangat terbuka apabila kami menerbitkan lagi [global bond] sampai 30 tahun," tutur Rosan usai memberikan laporan hasil roadshow terkait dengan global bond perdana Danantara kepada Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara pada Senin (15/6/2026).
Diversifikasi Mitra Investasi
Rosan mengutarakan umpan balik dari para penanam modal global memutarbalikkan arah persepsi yang mulanya sempat ragu-ragu perihal regulasi investasi di Indonesia.
Di luar respons positif dari pasar, perilisan global bond perdana milik Danantara juga mengarahkan pada diversifikasi rekanan investasi Indonesia.
Perihal ini kentara dari wilayah asal penanam modal paling besar untuk global bond terbitan Danantara.
Rosan membeberkan jika bagi produk global bond berdurasi 5 tahun, sebesar 38% investor datang dari AS. Selanjutnya, 41% dari kawasan Eropa serta Timur Tengah. Sisanya, sejumlah 21% berasal dari Asia.
Lalu, bagi produk global bond dengan durasi 10 tahun, sebanyak 52% investor datang dari AS, 31% investor berasal dari area Eropa serta Timur Tengah. Sisanya, sejumlah 17% dari wilayah Asia.
Rosan memaparkan bahwa selama ini secara historis, aktivitas penerbitan obligasi oleh Indonesia paling melimpah diserap oleh penanam modal dari Asia.
"Akan tetapi, ini kebalikan, pembeli terbesar dari AS, sampai 52% untuk 10 tahun. Oleh sebab itu, bahwa kepercayaan market dunia luar terhadap Indonesia sangat baik, tercermin dari mereka bersedia membeli global bond Danantara," ujar Rosan.