BMKG

BMKG Prediksi Cuaca Awal April 2026: Hujan Masih Dominan Sebelum Musim Kemarau

BMKG Prediksi Cuaca Awal April 2026: Hujan Masih Dominan Sebelum Musim Kemarau
BMKG Prediksi Cuaca Awal April 2026: Hujan Masih Dominan Sebelum Musim Kemarau

JAKARTA - Hujan masih mengguyur sejumlah wilayah Indonesia menjelang akhir Maret 2026. Masyarakat perlu mengetahui potensi cuaca awal April agar bisa mempersiapkan aktivitas sehari-hari.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan lebat terjadi pada periode 26–29 Maret 2026. Curah hujan tertinggi tercatat di Papua Selatan 140,0 mm/hari, Sumatra Utara 105,2 mm/hari, Jawa Tengah 94,1 mm/hari, Aceh 92 mm/hari, dan Papua 78,6 mm/hari.

Faktor Penyebab Hujan Masih Terjadi di Akhir Maret

BMKG menyebut aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial dan Kelvin masih memengaruhi beberapa wilayah. Kondisi ini diperkuat oleh transisi dominasi monsun dari Asia ke Australia yang memicu konvergensi dan sirkulasi udara.

Fenomena ini membuat pertumbuhan awan hujan tetap aktif di sejumlah daerah. Konsekuensinya, meski musim kemarau semakin dekat, hujan tetap bisa turun dengan intensitas ringan hingga lebat.

Prediksi Cuaca Awal April 2026

Sepekan ke depan, kondisi cuaca masih dipengaruhi dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal. Indeks ENSO berada pada fase netral dengan nilai NINO 3.4 sebesar -0,51, sehingga aktivitas konvektif di Indonesia tidak meningkat signifikan.

Nilai Dipole Mode Index (DMI) sebesar -0,13 juga menunjukkan fase netral. Artinya, aliran udara dari Samudra Hindia timur Afrika ke Indonesia bagian barat masih terbatas, sehingga curah hujan belum terganggu secara drastis.

Pengaruh Monsun Australia dan Pola Angin Zonal

Di skala regional, monsun Australia mulai menguat dan diperkirakan berlangsung beberapa hari ke depan. Hal ini meningkatkan aliran massa udara kering dari Australia ke Indonesia dan menandai sebagian wilayah mulai memasuki fase peralihan musim kemarau.

Analisis angin zonal menunjukkan dominasi angin timuran di sebagian besar wilayah. Fenomena ini menjadi salah satu indikasi awal bahwa musim kemarau akan segera muncul di beberapa daerah.

Aktivitas MJO dan Gelombang Rossby

Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi melintasi Sumatra bagian utara hingga tengah serta sebagian Papua. Aktivitas ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.

Sementara Gelombang Rossby Ekuatorial yang bergerak ke arah barat diperkirakan tetap aktif melintasi beberapa wilayah. Konvergensi dan konfluensi udara yang terbentuk meningkatkan risiko hujan di Aceh, Laut Natuna, Kalimantan Barat, dan Samudera Pasifik utara Papua.

Perkiraan Hujan dan Intensitasnya di Awal April

BMKG memprakirakan periode 31 Maret hingga 6 April cuaca didominasi hujan ringan hingga sedang. Beberapa wilayah perlu mewaspadai hujan sedang-lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang.

Hujan lebat berpotensi terjadi di Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Sulawesi Barat. Masyarakat di wilayah tersebut disarankan tetap berhati-hati terutama saat beraktivitas di luar rumah.

Awal Musim Kemarau dan Pergerakannya

Musim kemarau diprediksi mulai April 2026 di 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia. Wilayah yang lebih dulu memasuki kemarau meliputi pesisir utara Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara.

Pada Mei 2026, sebanyak 184 ZOM atau 26,3 persen wilayah diperkirakan memasuki musim kemarau. Selanjutnya pada Juni 2026, 163 ZOM atau sekitar 23,3 persen wilayah Indonesia akan menyusul mengalami kemarau.

Pergerakan musim kemarau awal diperkirakan dimulai dari Nusa Tenggara, lalu bergerak ke arah barat secara bertahap. Hal ini menunjukkan transisi musim tidak terjadi serentak, sehingga masyarakat tetap harus memantau prakiraan cuaca secara berkala.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index