Kemenkes Gandeng Takeda Perkuat Ketahanan Produk Plasma Nasional

Senin, 13 Juli 2026 | 18:14:01 WIB
Kemenkes dan Takeda Bangun Ekosistem Obat Derivat Plasma di Indonesia [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan perusahaan biofarmasi global Takeda untuk menyusun ekosistem produk obat derivat plasma (PODP) di Indonesia melalui penanaman modal awal hingga 30 juta dolar AS (sekitar Rp539 miliar) guna memperkokoh ketahanan kesehatan nasional serta memperluas jangkauan masyarakat terhadap terapi berbasis plasma.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan inisiatif tersebut merupakan cerminan komitmen Pemerintah Indonesia dalam membangun industri strategis di sektor kesehatan serta menjamin akses masyarakat terhadap pengobatan yang penting dan inovatif.

"Melalui kemitraan dengan Takeda, kami berharap dapat memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan kesehatan di masa depan," kata Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan resmi Takeda yang diterima di Jakarta, Senin.

Penetapan Takeda sebagai industri farmasi yang berwenang menyelenggarakan fraksionasi plasma memberi izin bagi perusahaan tersebut untuk melakukan pengumpulan plasma dan proses fraksionasi secara bertahap dalam rangka pembangunan ekosistem industri plasma nasional.

Langkah ini diharapkan mampu menambah ketersediaan produk obat derivat plasma di tanah air sekaligus mendorong kemajuan industri biofarmasi nasional. Kemitraan ini turut melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Program ini menjadi inisiatif pertama di Asia Tenggara yang memusatkan perhatian pada pembangunan sistem pengumpulan plasma berkualitas tinggi secara berkelanjutan serta pengembangan manufaktur produk obat derivat plasma dalam skala besar.

Pada fase awal, Takeda akan menanamkan modal hingga 30 juta dolar AS (sekitar Rp539 miliar) dalam kurun waktu dua tahun untuk mendirikan sejumlah bank plasma di Indonesia. Hasil dari tahap pengembangan awal ini akan menjadi tolok ukur bagi Kementerian Kesehatan dalam mengevaluasi kelayakan model operasional sebelum diperluas menjadi jaringan bank plasma berskala nasional. Seluruh bank plasma nantinya akan menerapkan standar mutu serta regulasi internasional dengan mengadopsi pengalaman global Takeda dalam mengelola donor plasma.

Pembangunan jaringan tersebut juga diproyeksikan membuka peluang kerja bagi tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium, sekaligus meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan serta transfer pengetahuan.

"Sejak menghadirkan PODP pertama kami di Indonesia pada awal tahun ini hingga investasi dalam infrastruktur industri plasma dari hulu ke hilir, kami bangga dapat memperluas kerja sama dengan Pemerintah Indonesia," kata President, Plasma-Derived Therapies Takeda Ramy Riad.

"Kami berharap pengalaman global Takeda dapat mendukung tujuan jangka panjang Indonesia dalam meningkatkan layanan kesehatan, menciptakan lapangan kerja berketerampilan tinggi, dan memperkuat ketersediaan layanan dan pengobatan yang menyelamatkan serta menopang kehidupan pasien," ujar Ramy Riad.

Di samping membangun jaringan bank plasma, Takeda juga akan mengkaji potensi pendirian fasilitas manufaktur produk obat derivat plasma berteknologi tinggi di Indonesia guna memenuhi kebutuhan domestik dan pasar global. Fasilitas ini ditargetkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri kesehatan.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P Roeslani menuturkan bahwa investasi tersebut tidak hanya membawa modal baru, tetapi juga membuka kesempatan transfer teknologi, pengembangan SDM, dan penciptaan lapangan kerja.

"Investasi ini merupakan investasi yang strategis. Selain menghadirkan investasi baru, kemitraan ini juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia nasional, dan penciptaan lapangan pekerjaan. Kemitraan ini tidak hanya memperkuat ekosistem kesehatan Indonesia, tetapi juga mendukung visi kami untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat regional untuk inovasi kesehatan dan manufaktur obat berteknologi maju," kata Rosan.

Bank plasma perdana ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 sebagai bagian dari jaringan bank plasma BioLife milik Takeda. Sementara fasilitas fraksionasi plasma di Indonesia masih dalam pengkajian, plasma yang terkumpul akan diproses melalui jaringan manufaktur global Takeda dengan tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan Indonesia terhadap produk obat derivat plasma sesuai ketentuan peraturan yang berlaku.

Terkini