Kurs Rupiah Tertekan, Sepanjang Pekan Terjebak di Level Rp 18.000

Minggu, 12 Juli 2026 | 13:53:01 WIB
Pekan yang Bergejolak, Kurs Rupiah Betah di Level Rp 18.000 per Dolar AS [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada Juli 2026 tampak sulit beranjak dari angka psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Selama sepekan terakhir, mata uang Garuda cenderung melemah dan terus bergerak di sekitar level tersebut. 

Meski pasar spot menutup pekan dengan penguatan pada perdagangan Jumat (10/7/2026), di mana rupiah menguat 63 poin atau 0,35 persen ke level Rp 18.065 per dolar AS dibandingkan saat pembukaan, tren pelemahan tetap mendominasi jika ditarik sejak awal pekan.

Pada pembukaan Senin (6/7/2026), rupiah berada di posisi Rp 17.997 atau terdepresiasi 0,19 persen. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pasar bereaksi negatif di awal pekan menyusul laporan terbaru Fitch Ratings yang menyoroti kerentanan ekonomi makro Indonesia, terlihat dari melemahnya nilai tukar, penurunan cadangan devisa, hingga arus modal keluar yang masif. Fokus utama Fitch terletak pada menurunnya kepercayaan investor akibat tata kelola ekonomi yang memburuk.

Rupiah terus mengalami gejolak sepanjang pekan karena berbagai sentimen. Pada pertengahan pekan, rupiah sempat ditutup di level Rp 18.014 per dolar AS, dipicu oleh defisit APBN semester I-2026 yang mencapai Rp 196,5 triliun, atau 0,76 persen terhadap PDB. Di sisi lain, BI mencatat cadangan devisa akhir Juni 2026 naik tipis menjadi 145,6 miliar dolar AS, namun posisi tersebut masih mendekati level terendah dalam dua tahun terakhir.

Sentimen negatif lainnya datang dari percepatan realisasi belanja negara.

“Pelaksanaan APBN yang lebih cepat pada semester pertama tahun 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar,” ujar Ibrahim.

Selain itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 menurun ke level 117,8, terendah sejak September tahun lalu. Kendati demikian, di akhir pekan pasar merespons positif keputusan IMF yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,0 persen pada 2026. 

Proyeksi ini lebih tinggi dari rata-rata negara berkembang di Asia yang diprediksi melambat ke 4,8 persen. Asian Development Bank (ADB) bahkan memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen.

Namun, proyeksi tersebut masih di bawah target pemerintah.

“Dalam APBN 2026, pemerintah bersama DPR menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen,” ujar Ibrahim.

Sementara itu, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, justru merevisi turun perkiraan pertumbuhan PDB menjadi 4,8 persen untuk 2026.

"Mencerminkan permintaan domestik yang lebih lemah, lingkungan eksternal yang kurang mendukung, dan kondisi keuangan yang lebih ketat," ujar dia dalam riset tertulis.

Terkini