Rupiah Melemah ke Rp18.128, Pasar Soroti APBN dan Isu Timur Tengah

Kamis, 09 Juli 2026 | 22:58:31 WIB
Kurs Rupiah Loyo ke Rp18.128 Sore Ini Saat Mata Uang Asia Beragam [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah di pasar spot bergerak melorot hingga akhir sesi perdagangan Kamis (9/7/2026). Rupiah disudahi pada level Rp18.128 per dolar Amerika Serikat (AS), atau mengalami pelemahan sebanyak 114 poin atau setara 0,63 persen.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau bervariasi namun menunjukkan kecenderungan menguat atas dolar AS. Unit Yuan China membukukan lonjakan paling tinggi di regional dengan kenaikan 0,15 persen. 

Selanjutnya, Yen Jepang beserta baht Thailand masing-masing bergerak menguat 0,14 persen. Rupee India menguat sebesar 0,11 persen, sementara dolar Singapura terapresiasi 0,05 persen. Dolar Hong Kong pun mencatatkan penguatan tipis senilai 0,005 persen atas dolar AS.

Di sisi lain, beberapa mata uang di Asia terpantau masih tertahan di zona merah. Dolar Taiwan membukukan koreksi terdalam usai melorot 0,45 persen. 

Won Korea Selatan terdepresiasi 0,27 persen, sedangkan peso Filipina turun sebesar 0,19 persen. Sementara itu, Ringgit Malaysia terpantau bergerak stagnan dengan kecenderungan melorot tipis.

Sentimen Pasar

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi berpendapat bahwa langkah percepatan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang paruh pertama tahun 2026 ikut menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi arah pergerakan pasar, termasuk mata uang rupiah.

 Kendati demikian, instrumen APBN 2026 pada hakikatnya tetap diformulasikan sebagai jangkar utama untuk mengawal stabilitas ekonomi sekaligus menopang delapan program prioritas nasional.

“Pelaksanaan APBN yang lebih cepat pada semester pertama tahun 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasra,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Kamis.

Kedelapan program prioritas tersebut mencakup peningkatan ketahanan pangan, ketahanan energi, pengguliran agenda Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan mutu pendidikan, penguatan sektor layanan kesehatan, pembangunan area pedesaan serta pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penguatan pada sistem pertahanan semesta, hingga percepatan investasi serta eskalasi perdagangan global.

Faktor penekan lain turut berembus dari ranah domestik. Tingkat keyakinan konsumen terpantau kembali melemah selama dua bulan berturut-turut pada Juni 2026 hingga menyentuh titik terendah sejak September tahun kemarin. 

Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) memperlihatkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 menyusut ke angka 117,8 dari posisi 120,9 pada Mei 2026. Padahal pada Januari 2026, nilai indeks ini sempat bertengger di posisi 127,0. 

Walaupun terus menyusut dalam beberapa bulan ke belakang, pihak BI mengklaim bahwa sikap optimistis di tengah masyarakat sebenarnya masih terjaga. Indikasi itu tecermin dari angka IKK yang konsisten berada di atas level 100.

Dari sektor eksternal, pelaku pasar turut mencermati eskalasi ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman untuk menggelar serangan anyar terhadap Iran pasca-insiden penyerangan pada Rabu malam. 

Tindakan ofensif itu diklaim memiliki tujuan untuk memastikan kawasan Selat Hormuz tetap aman bagi jalur transportasi pelayaran. 

Pemerintah AS menegaskan tindakan tersebut menjadi respons atas aksi penyerangan terhadap tiga kapal tanker yang tengah melintasi Selat Hormuz pada hari Selasa. 

Pihak Iran selanjutnya mengumumkan telah menyerang pos militer milik AS di wilayah Bahrain dan Kuwait selaku aksi balasan atas serangan terdahulu.

Eskalasi friksi tersebut memicu kekhawatiran yang mendalam di sektor industri pelayaran. Sejumlah korporasi asuransi perang dikabarkan telah merekomendasikan perusahaan pelayaran untuk menyetop aktivitas operasional mereka untuk sementara waktu di jalur Selat Hormuz. 

Sebagian perusahaan asuransi lainnya pun mengevaluasi ulang ketentuan klausul polis mereka seiring dengan melonjaknya risiko keamanan di wilayah terkait.

Pasar pun ikut mencermati dokumen risalah pertemuan bank sentral AS (The Fed) edisi Juni yang dipublikasikan pada hari Rabu. Isi dokumen itu memperlihatkan bahwa arah pandangan para perumus kebijakan belum memperlihatkan tanda-tanda selonggar (dovish) yang diprediksikan oleh pasar. 

Para pejabat di internal The Fed dilaporkan masih silang pendapat mengenai urgensi penyesuaian naik suku bunga di tahun ini. Dokumen risalah itu juga mengindikasikan tingginya kekhawatiran terhadap laju inflasi yang masih bertahan di level tinggi. 

Situasi tersebut dinilai berpeluang memicu kenaikan suku bunga di penghujung tahun nanti apabila tekanan harga belum kunjung mereda.

 Tingkat inflasi di AS terpantau merangkak naik semenjak pecahnya konflik antara AS dan Iran pada akhir Februari lalu. Laju inflasi tersebut juga masih bertengger di atas target tahunan milik The Fed yang sebesar 2 persen. 

Ketua The Fed, Kevin Warsh, kembali menegaskan ketegasan bank sentral untuk mengembalikan laju inflasi ke koridor target dalam pidato teranyarnya.

Terkini