Tanpa Bedah Besar, AI Navigasi Perbaikan Katup Jantung Bocor

Senin, 06 Juli 2026 | 03:32:01 WIB
Teknologi AI Bantu Dokter Perbaiki Katup Jantung Tanpa Operasi [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini kian meluas di sektor pelayanan kesehatan. Apabila selama ini fungsionalitas AI lebih identik untuk menunjang pembacaan hasil laboratorium atau mengakselerasi pemrosesan basis data medis, saat ini inovasi digital tersebut telah mengambil peran konkret dalam mendampingi tim dokter sewaktu melangsungkan tindakan intervensi pada organ jantung.

Salah satu implementasi konkret AI diterapkan pada metode medis minimal invasif untuk mereparasi kebocoran katup jantung (mitral regurgitasi) lewat mekanisme transkateter. 

Melalui penanganan ini, sistem AI menyokong pemetaan navigasi instrumen yang dimasukkan ke jantung lewat integrasi sistem pencitraan, sehingga penempatan perangkat medis dapat dieksekusi secara lebih akurat tanpa perlu menempuh jalur operasi jantung terbuka.

Pakar Kardiologi Intervensi St. Antonius Hospital, dokter Martin Swaans, MD, PhD memaparkan bahwa institusi medis tempat dirinya mengabdi telah sejak lama menggalakkan bermacam terobosan di sektor kardiologi. 

Salah satunya ditunjukkan lewat kemitraan bersama Philips dalam merancang teknologi pencitraan berbasis AI guna menopang penanganan perbaikan katup mitral.

"Hal baik tentang rumah sakit kami adalah kami cukup inovatif dalam bidang kardiologi. Kami terbilang inovatif sejak awal," ujarnya saat menyambut kedatangan para jurnalis dari berbagai negara dalam rangkaian acara Philips Pulse Connect, Kamis (2/7/2026) di St. Antonius Hospital, Nieuwegein, Belanda.

Menurut dr. Martin, tatalaksana penanganan kebocoran pada katup mitral sebetulnya sudah dipraktikkan selama bertahun-tahun. 

Kendati begitu, kendala terbesar yang dihadapi bukan sekadar memasang perangkat pada bagian katup yang bocor, melainkan memastikan instrumen tersebut berada pada koordinat posisi yang benar-benar akurat. Oleh karena itu, faktor kualitas visualisasi pencitraan menjadi penentu utama keberhasilan metode transkateter.

Prosedur Transkateter dengan Teknologi AI Memperbaiki Katup Jantung Tanpa Operasi Besar

Lebih lanjut dr. Martin menerangkan, mekanisme transkateter memiliki perbedaan signifikan dengan operasi jantung terbuka yang mengharuskan area dada pasien dibedah dan fungsi detak jantung dihentikan sementara waktu memakai bantuan mesin jantung-paru atau cardiopulmonary bypass (CPB) selama intervensi berlangsung. 

Sementara itu, untuk prosedur transkateter dijalankan dalam kondisi organ jantung yang tetap berdegup aktif. Situasi tersebut memberikan ruang bagi tim dokter untuk langsung menganalisis efektivitas dari tindakan yang diaplikasikan. Apabila posisi instrumen dinilai belum presisi, dokter dapat segera melakukan kalibrasi ulang sebelum tindakan diselesaikan.

"Hal yang menyenangkan dari prosedur yang kami lakukan sekarang adalah bahwa jantung terus berdetak, karena tidak perlu menggunakan alat jantung-paru. Jadi, kami dapat melihat hasil dari prosedur yang kami lakukan dengansegera dan kemudian apakah itu dapat beradaptasi," tutur dr. Martin.

Dalam pelaksanaan prosedur medis tersebut, alat dimasukkan melintasi jalur pembuluh darah di area selangkangan menuju ke jantung. Berikutnya, dokter akan mengarahkan sebuah komponen klip ke titik kebocoran pada katup mitral untuk mempertemukan kedua bagian daun katup, sehingga tingkat kebocoran dapat diminimalisasi. 

Walau mekanismenya terdengar simpel, rangkaian proses ini memerlukan tingkat akurasi yang amat tinggi. Dokter diwajibkan mengarahkan pergerakan alat pada sudut kemiringan tertentu agar tidak mencederai anatomi katup. Pada fase inilah peranan teknologi AI sangat diperlukan.

Teknoogi AI membantu dokter melakukan tindakan dengan lebih efisien

Dr. Martin membeberkan, pada masa sebelumnya tim dokter diwajibkan memantau dua layar visual secara simultan, yaitu layar fluoroskopi (sinar-X) dan ekokardiografi (USG jantung). Keadaan ini memaksa dokter untuk menyatukan stimulasi informasi dari dua basis pencitraan yang berbeda secara mandiri selama tindakan berjalan. 

Namun, lewat kehadiran inovasi terbaru, kecerdasan buatan mampu menyinkronkan kedua jenis pencitraan tersebut ke dalam satu tampilan terpadu. Bahkan, sistem ini tidak cuma mengidentifikasi koordinat probe ekokardiografi, melainkan juga mendeteksi titik lokasi instrumen yang tengah digerakkan dokter di dalam jantung pasien.

Sistem kerja tersebut diaplikasikan oleh DeviceGuide, yaitu panduan real-time berbasis kecerdasan buatan teranyar besutan Philips untuk menyokong dokter dalam mengeksekusi salah satu tatalaksana jantung paling rumit, yaitu memulihkan kebocoran katup mitral tanpa jalur pembedahan terbuka.

"Apa yang dilakukan teknologi baru adalah bahwa sekarang, itu tidak hanya mengenali posisi probe, tetapi juga mengenali perangkat di dalam tubuh pasien. Dengan kemampuan tersebut, AI dapat menunjukkan arah gerak perangkat meskipun alat tersebut berada di luar bidang pencitraan dua dimensi,” jelasnya.

Bagi dr. Martin, terobosan ini mempermudah tim medis untuk memantau pergerakan instrumen secara lebih optimal sepanjang proses transkateter berjalan.

"Dan hal yang menyenangkan adalah teknologi AI bisa menunjukkan kepada Anda di mana posisi perangkat, dan juga ke mana arahnya,” kata dr. Martin.

Bukan sebatas menyokong pemetaan navigasi, kehadiran AI juga mengondisikan pola komunikasi antaranggota tim medis menjadi jauh lebih efektif. Seluruh personel dapat mengamati basis informasi yang setara dalam satu tangkapan layar, sehingga proses determinasi keputusan dapat dicapai secara lebih mudah.

Nilai plus lainnya terletak pada kapabilitas AI dalam mengunci visualisasi instrumen di kala kondisi jantung terus bergerak aktif. Di saat dokter bersiap menjepit kedua belah daun katup menggunakan komponen klip, sistem secara otomatis akan terus melacak posisi alat sehingga visual yang diproduksi pada layar tetap jernih.

"Teknologi AI sekarang dapat mengenali perangkat dan membantu dokter melihat lebih jelas sepanjang waktu, ini lebih baik daripada yang saya bisa lakukan sebelumnya," ujarnya.

Meski demikian, menurut pandangan dr. Martin kesuksesan dari sebuah inovasi teknologi tidak hanya ditinjau berdasarkan tingkat kecanggihannya saja, melainkan dari output asas manfaat yang diperoleh dokter yang mengoperasikannya secara langsung. 

Oleh sebab itu, ia menilai testimoni positif terbesar terhadap piranti tersebut justru lahir dari para dokter spesialis kardiologi intervensi yang meminta agar sistem berbasis AI ini terus diintegrasikan dalam aktivitas praktik harian.

"Saya pikir pujian paling bagus untuk Philips adalah bahwa dokter ahli kardiologi intervensi seperti saya memang membutuhkannya. Karena teknologi itu benar-benar membantu memahami apa yang terjadi di dalam tubuh pasien," pungkas dr. Martin.

Menyaksikan langsung prosedur transkateter dengan DeviceGuide

Melalui rangkaian agenda kunjungan ini, para jurnalis berkesempatan untuk mengamati secara langsung pemanfaatan kecerdasan buatan dalam sistem DeviceGuide saat diterapkan pada prosedur klinis transkateter minimal invasif untuk tatalaksana penanganan kebocoran katup mitral (mitral regurgitasi).

Di dalam ruangan bedah, dr. Martin Swaans berkolaborasi dengan pakar kardiologi intervensi dr. Leo Timmers melangsungkan prosedur transkateter menggunakan DeviceGuide pada seorang pasien laki-laki berumur 81 tahun. Tidak dijumpai adanya sayatan lebar di area dada, serta tidak ada genangan darah yang mencolok. Tindakan medis ini diaplikasikan cukup lewat sayatan berukuran kecil pada bagian paha pasien.

Dengan panduan visual pencitraan yang terpampang transparan di layar monitor, jemari dr. Leo tampak terampil mengarahkan selang kateter DeviceGuide demi menempatkan klip di antara kedua belah katup dalam kondisi organ jantung yang tetap berdenyut. Di waktu yang sama, dr. Martin bertugas mengoperasikan probe serta mengondisikan ketajaman gambar. 

Piranti DeviceGuide ini menyokong setiap tenaga medis di ruang operasi untuk melihat satu acuan visual yang seragam, menstimulasi komunikasi antardokter secara lebih efektif, dan memfokuskan atensi penuh dokter hanya pada pasien, sehingga mampu menghemat durasi waktu yang sangat krusial.

Terkini