IHSG Anjlok 1,72 Persen, Saham Emiten Prajogo Pangestu Ambrol

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:23:31 WIB
IHSG Ditutup Merosot ke 5.896 Saat Saham TPIA dan BREN Ambles [FOTO: NET].

JAKARTA – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah sebesar 1,72% menuju level 5.896,13 pada sesi perdagangan hari ini, Jumat (26/6/2026). Pergerakan saham-saham seperti TPIA, BREN, hingga CUAN yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu kompak terjerembap pada sore hari ini.

Merujuk pada data statistik RTI Business pukul 16.01 WIB, IHSG terkoreksi 1,72% atau terpangkas 102,90 poin ke level 5.896,04 pada penutupan bursa hari ini. Rentang fluktuasi indeks komposit bergerak pada kisaran 5.830 sampai dengan 6.045. 

Akumulasi volume perdagangan saham menyentuh angka 20,35 miliar lembar, dengan estimasi nilai transaksi mencapai Rp12,38 triliun lewat frekuensi perdagangan sebanyak 1,53 juta kali. 

Berdasarkan hasil akhir, tercatat ada 123 saham bergerak menguat, 562 saham tertekan melemah, dan 129 saham lainnya bergeming stagnan. 

Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar (market cap) di Bursa Efek Indonesia dilaporkan parkir di level Rp10.324 triliun.

Menilik barisan emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, harga saham TPIA terpantau merosot 5,03% atau terpotong 95 poin menuju harga Rp1.795 per lembar. 

Pergerakan saham BREN juga ambles sedalam 8,22% atau berkurang 300 poin ke posisi Rp3.350 per lembar. 

Tidak ketinggalan, saham CUAN turut tercatat longsor hingga 9,60% atau terpangkas 60 poin ke level Rp565 per lembar.

Di lain pihak, beberapa saham dengan kapitalisasi pasar besar (big caps) justru terpantau menguat, di antaranya saham BBCA yang menguat sebesar 2,49% ke level Rp6.175 per lembar, serta saham BBRI yang ikut terapresiasi 0,70% menuju posisi Rp2.870 per lembar. 

Adapun untuk kelompok saham penahan beban terdalam (top losers) pada hari ini dihuni oleh saham FUJI yang anjlok mencapai 14,88% atau turun 36 poin menuju harga Rp206 per lembar. Menyusul di belakangnya, saham CLPI yang juga jatuh 14,83% atau ambles 255 poin ke level Rp1.465 per lembar.

Pada sesi sebelumnya, Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas telah memaparkan beragam variasi sentimen global maupun domestik yang memberikan pengaruh terhadap laju gerak indeks komposit sepanjang hari ini. 

Dari lanskap dalam negeri, Indonesia dinilai tengah didera isu krisis kepercayaan (trust deficit) di mata internasional. 

Hal ini dipicu oleh penerbitan UU Nomor 4 Tahun 2026 mengenai perubahan atas UU P2SK, di mana pada pasal 50A diatur regulasi proteksi hukum bagi para pemodal Patriot Bond serta Merah Putih Bond dengan misi menggaet dana segar yang selama ini mengendap di luar ekosistem keuangan agar bersedia mengalir ke perekonomian domestik.

Langkah regulasi tersebut dinilai memiliki potensi meningkatkan eskalasi risiko praktik pencucian uang serta memunculkan keraguan mendalam akan timbulnya kekeliruan arah kebijakan, yang pada akhirnya memicu rasa prihatin atas prospek masa depan perekonomian negara.

“Ini tentunya mencerminkan dan menunjukkan pemberian kekebalan hukum sarat dengan kepentingan elit politik dan pelaku kejahatan keuangan sehingga akan merusak reputasi dalam memerangi dana illegal,” ujar Pilarmas Investindo Sekuritas, Jumat (26/6/2026).

Analis dari Pilarmas juga memiliki pandangan bahwa keberadaan pasal anyar tersebut berisiko mengikis wewenang institusi-institusi strategis negara, seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), yang selama ini memegang mandat penting dalam mengawal integritas ekosistem keuangan nasional.

Di samping isu regulasi tersebut, rapor peringkat daya saing Indonesia dalam ajang IMD World Competitiveness Ranking 2026 dilaporkan melorot ke urutan 48 dari total 70 negara, atau merosot sedalam delapan peringkat jika disandingkan dengan perolehan pada tahun sebelumnya.

 Kemerosotan posisi ini dipicu oleh melemahnya performa pada variabel efisiensi dunia usaha, efektivitas tata kelola pemerintah, beserta kualitas sarana infrastruktur, kendati situasi fundamental ekonomi secara umum dinilai masih berada dalam kondisi yang cukup kuat.

Terkini