Strategi BRI dalam Mempertahankan Laba Meski Menghadapi Tantangan Ekonomi Global di 2025

Kamis, 26 Februari 2026 | 10:14:58 WIB
Strategi BRI dalam Mempertahankan Laba Meski Menghadapi Tantangan Ekonomi Global di 2025

JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp57,13 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini mengalami penurunan 5,26% dibandingkan Rp60,30 triliun pada tahun 2024.

Kinerja ini menjadi sorotan karena BRI tetap mampu mempertahankan profitabilitasnya meski menghadapi tekanan ekonomi makro. Penurunan laba dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kenaikan biaya operasional dan persaingan di sektor perbankan.

Pendapatan Bunga dan Jasa Keuangan Meningkat

Pendapatan bunga BRI sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar Rp207,78 triliun. Peningkatan ini setara dengan 4,27% secara tahunan (yoy).

Beban bunga naik tipis 1,2% menjadi Rp57,28 triliun. Dengan demikian, pendapatan bunga bersih serta pendapatan jasa asuransi naik 5,54% menjadi Rp151,8 triliun.

Kredit Tumbuh Positif di Tengah Ketatnya Persaingan

Kredit konsolidasi BRI meningkat menjadi Rp1.521,49 triliun pada akhir 2025. Pertumbuhan ini mencapai 12,31% yoy.

Fungsi intermediasi BRI tetap menjadi andalan untuk mendorong pertumbuhan. Hal ini tercermin dari kenaikan total aset yang mencapai Rp2.135,37 triliun.

Tabel Kinerja Keuangan BRI 2025

Komponen Keuangan2025 (Rp Triliun)Perubahan YoY (%)
Laba Bersih57,13-5,26
Pendapatan Bunga207,784,27
Beban Bunga57,281,20
Pendapatan Bunga Bersih & Jasa Asuransi151,85,54
Kredit Konsolidasi1.521,4912,31
Total Aset2.135,37-
Dana Pihak Ketiga1.466,84-
CASA70,61%-
LDR91,96%-
NPL Gross3,29%-
NPL Net0,96%-

Kondisi Nonperforming Loan dan Likuiditas

Rasio kredit bermasalah atau NPL gross mengalami kenaikan menjadi 3,29%. Sementara itu, NPL net juga meningkat menjadi 0,96%.

Peningkatan NPL menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kualitas aset. Namun, manajemen BRI menyatakan akan tetap menjaga likuiditas dan kesehatan portofolio kredit.

Dana Pihak Ketiga dan Komposisi CASA

Dana pihak ketiga tercatat sebesar Rp1.466,84 triliun per akhir 2025. Komposisi CASA atau dana murah mencapai 70,61%.

CASA yang tinggi menandakan BRI masih memiliki basis dana yang kuat. Hal ini membantu mendukung kegiatan penyaluran kredit dan menjaga likuiditas.

Rasio Loan to Deposit (LDR) Mengindikasikan Likuiditas Ketat

Rasio loan to deposit ratio (LDR) berada pada level 91,96%. Angka ini menunjukkan bahwa likuiditas BRI sedikit mengetat.

Meski demikian, LDR yang masih di bawah 100% berarti bank memiliki cadangan likuiditas untuk mendukung pertumbuhan kredit. BRI tetap mampu menyeimbangkan ekspansi bisnis dan manajemen risiko.

Faktor yang Mendorong Kinerja BRI di Tahun 2025

Pertumbuhan kredit menjadi faktor utama yang menopang pendapatan BRI. Bahkan saat menghadapi tekanan biaya bunga, peningkatan pendapatan jasa asuransi ikut membantu profitabilitas.

Kinerja ini mencerminkan strategi BRI dalam menjaga stabilitas keuangan. Pendekatan ini sekaligus menunjukkan ketahanan BRI di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Prospek BRI Menghadapi 2026

Dengan modal yang kuat dan rasio CASA tinggi, BRI diperkirakan akan tetap mampu menyalurkan kredit. Strategi digitalisasi dan diversifikasi produk juga menjadi kunci untuk pertumbuhan di tahun berikutnya.

Tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga kualitas aset dan menekan NPL. Namun, manajemen optimistis laba dapat kembali meningkat seiring pemulihan ekonomi dan pengelolaan risiko yang tepat.

Terkini